What Happened With Eden

Eden.

Hampir tiga minggu berlalu sejak kepergiannya, dan lidahku masih tetap kelu setiap menyebut namanya. Aku lebih nyaman menyebutnya “Abang” setiap kali topik tentangnya muncul dalam obrolan keluarga. Well, Eden memang anak sulung kami, yang sayangnya harus ikhlas kurelakan bahkan sebelum aku bisa melihatnya.

Sampai sekarangpun, aku masih enggan kalau harus berulang kali menjelaskan pada setiap orang yang menanyakan apa yang terjadi dengan Eden. Aku paham benar, itu hal yang lazim ditanyakan orang saat mendengar berita kematian, apalagi jika kematian itu termasuk mendadak. Aku sudah cukup lelah merasakan jungkir baliknya duniaku di awal April lalu, harus tetap tersenyum saat aku masih belum puas berduka, dan menjawab semua pertanyaan dari orang-orang yang membesuk – yang kebanyakan adalah orang-orang yang lebih tua daripada aku dan rasanya tidak sopan kalau kubilang ‘saya tidak ingin membahas soal ini’.

Now that I’m feeling quite better, kupikir lebih baik kuceritakan apa yang terjadi di sini saja. Aku tidak perlu mengulang ceritaku, cukup dengan memberi link, dan selesai. You have your curiosity answered in one click, thank you technology.

3 April 2018.
Eden hidup dan sehat sampai setidaknya hari itu. Itu hari terakhir aku bisa merasakan gerakannya dalam perutku, walaupun bisa kubilang gerakannya berkurang, tidak seperti biasa. Sempat sangat khawatir karena dia tidak bereaksi saat aku mengelus perutku, ditambah dengan perutku yang mengeras, terasa kembung, dan penuh gas, akhirnya aku bisa merasa lega karena akhirnya dia bergerak banyak tepat sebelum aku tidur.

4 April 2018.
Aku masih ke kantor karena ini pekan terakhirku bekerja sebelum menjalani cuti melahirkan. Jujur, aku tidak memperhatikan gerakan Eden karena perhatianku tersita untuk aktivitas di kantor yang agak padat. Sempat beberapa kali aku merasakan kontraksi palsu membuatku tidak khawatir dengan Eden karena waktu itu kupikir selama kita merasakan kontraksi palsu, artinya bayi baik-baik saja. Kontraksi palsu berlangsung juga di malam hari. Tendangan Eden sudah tidak kutemukan, tapi pengetahuanku yang salah membuatku tetap tenang. Satu-satunya hal yang agak aneh hari itu adalah kedua kakiku bengkak sekali, dan tidak normal kembali bahkan setelah bangun tidur. Aneh, karena sepanjang kehamilan aku hampir tidak pernah merasakan kaki bengkak. Kalaupun bengkak sesekali, hilang setelah bangun tidur. Papanya Eden sempat mengajak ke RS tempat kami biasa kontrol kehamilan, tapi kutolak karena selain capek pulang kantor dan RSnya agak jauh, besoknya adalah jadwal kontrol mingguan ke dokter kandungan. Mingguan, karena saat itu usia kandunganku sudah hampir memasuki 38 minggu.

5 April 2018. The day.
Kami pergi seperti biasa ke rumah sakit. Tidak ada firasat apapun. Kaki masih bengkak, tapi excited karena akan melihat Eden lagi. Pagi yang sangat normal.
Seperti biasa juga, dokter langsung memintaku berbaring di tempat yang disediakan untuk menjalani USG.

And that’s the point where my world went upside down.

Aku bahkan tidak curiga ada yang salah sampai dokter menanyakan usia pernikahan kami.. yang kemudian disusul dengan, “Mohon maaf… Bayinya sudah meninggal.”

I was like, “Wait… what?” And suddenly, it felt like the air was very suffocating and the world under my feet just… disappeared.

Jangan ditanya apa yang kemudian terjadi pada kami berdua. Dokter memutuskan aku harus menjalani operasi caesar hari itu juga untuk mengeluarkan Eden.
That was the last time I got in touch with him.

The rest is history.
Yang terjadi setelah itu adalah cerita tentang aku, bukan lagi tentang Eden. Aku tidak sempat melihatnya lagi, karena ia harus menjalani prosedur sebelum pemakamannya sehari kemudian, 6 April 2018, dan aku tidak bisa apa-apa pasca operasi. Foto dan cerita, that’s all I can treasure.

Aku tetap tidak bisa menceritakan diagnosa dokter tentang apa yang jadi penyebab IUFD (Intra Uterine Fetal Death) pada Eden. Yang bisa kukatakan hanya ini pelajaran yang keras untuk kami berdua. Mudah-mudahan post ini cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak kujawab.

Advertisements

2 thoughts on “What Happened With Eden

    1. I’m sorry, it seems like I keep breaking your heart with stories of Eden.. Tapi jangan bosan ya 🙂 Knowing that there’s someone with empathy like yours helps me a lot to heal. Thanks, Dy!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s